Rabu, 10 November 2010

Lukisan Pangeran Diponegoro

Lukisan adalah karya seni yang proses pembuatannya dilakukan dengan meletakkan pewarna "pigmen" cair dalam pelarut (atau medium) dan agen pengikat (lem) kepada permukaan (penyangga) seperti kertas, kanvas, atau dinding. Ini dilakukan oleh seorang pelukis; definisi ini digunakan terutamanya jika ia merupakan pencipta suatu karya lukisan. Manusia telah melukis selama 6 kali lebih lama berbanding penggunaan tulisan. Sebagai contoh lukisan-lukisan yang berada di gua-gua tempat tinggal manusia prasejarah.



Seni pada mulanya adalah proses dari manusia, dan oleh karena itu merupakan sinonim dari ilmu. Dewasa ini, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreatifitas manusia. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit dinilai, bahwa masing-masing individu artis memilih sendiri peraturan dan parameter yang menuntunnya atau kerjanya, masih bisa dikatakan bahwa seni adalah proses dan produk dari memilih medium, dan suatu set peraturan untuk penggunaan medium itu, dan suatu set nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi lewat medium itu, untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara seefektif mungkin untuk medium itu. Sekalipun demikian, banyak seniman mendapat pengaruh dari orang lain masa lalu, dan juga beberapa garis pedoman sudah muncul untuk mengungkap gagasan tertentu lewat simbolisme dan bentuk (seperti bakung yang bermaksud kematian dan mawar merah yang bermaksud cinta).




Diponegoro dalam Lukisan
oleh Fandy Hutari
Karya J.W. Pieneman, "Penaklukan Diponegoro" (atas) dan karya Raden Saleh "Penangkapan Diponegoro". (foto: google)
SOSOK Pangeran Diponegoro rupanya menarik perhatian dua maestro lukis tempo doeloe. Ada dua versi lukisan tentang peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro, yang pertama hasil karya seorang pelukis Belanda, J.W. Pieneman, dan yang kedua hasil karya pelopor seni lukis modern Indonesia, Raden Saleh (1807-1880). Meskipun inspirasinya sama, yaitu tentang penangkapan Pangeran Diponegoro, tetapi interpretasi lukisan ini jauh berbeda.

J.W. Pieneman membuat lukisan tentang tema ini lebih dahulu daripada Raden Saleh. Lukisan Pieneman yang berjudul Penaklukan Diponegoro menggambarkan peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro dari perspektif kolonial. Di dalam lukisannya, Pieneman menciptakan sosok sang pangeran yang tidak berdaya dengan raut muka lelah seolah kehilangan akal, pasrah, dan tangan terbentang. Selain itu, terdapat hamparan tombak yang menandakan kalah perang. Di bagian belakang tampak Jenderal de Kock setengah bertolak pinggang sambil menunjuk ke arah kereta tahanan yang siap membawanya ke tempat pengasingan. Dua pengikut  Pangeran Diponegoro dalam lukisan tersebut terlihat sangat menyesali perbuatannya, sampai “menyembah-nyembah” pada Jenderal de Kock.

Lukisan Raden Saleh yang mengusung tema sama diberi judul Penangkapan Diponegoro. Lukisan ini selesai dibuat pada 1857. Karya Raden Saleh merupakan wujud reaksinya terhadap lukisan Pieneman. Dalam lukisan Raden Saleh digambarkan Pangeran Diponegoro berwajah tegas dan berwibawa. Kepalanya tegak menghadap ke depan. Tangan sang pangeran mengepal seakan menahan marah dan menggenggam sebuah tasbih. Yang unik dalam lukisan Raden Saleh adalah tidak ada satu pun senjata di pihak Pangeran Diponegoro. Berbeda dengan Pieneman yang memperlihatkan hamparan tombak, di lukisan Raden Saleh tidak ada satu pun tombak terlihat. Bahkan sebilah keris, yang menjadi salah satu ciri khas Pangeran Diponegoro dan selalu ditaruh di pinggangnya, tidak ada. Ini menandakan bahwa peristiwa tersebut terjadi pada saat Idul Fitri, tepatnya 28 Maret 1830. Selain itu Pangeran Diponegoro beserta pengikutnya juga mempunyai niat baik dalam perundingan yang kemudian berubah menjadi penangkapan.

Raut wajah Jenderal de Kock dalam lukisan Raden Saleh tampak begitu segan terhadap Pangeran Diponegoro. Tangannya tidak bertolak pinggang dan menunjuk seperti pada lukisan Pieneman, tetapi mempersilakan dengan “sopan” menuju kereta tahanan. Lucunya, semua orang Belanda dalam lukisan Raden Saleh berkepala besar dalam artian yang sesungguhnya. Seluruh orang Belanda di sini mempunyai kepala yang melebihi proporsi tubuh mereka. Mungkin ini semacam sindiran pada pemerintah kolonial yang diibaratkan berkepala besar (sombong/angkuh) atau seperti buto seberang dalam pewayangan. Yang menarik ialah, Raden Saleh memberi warna merah putih di bagian atas sorban hijau Pangeran Diponegoro. Apakah warna itu sudah menjadi simbol perlawanan rakyat Indonesia dalam menentang kolonialisme pada masa itu hingga akhirnya menjadi warna bendera kita? Entahlah. Yang pasti dua warna tersebut punya arti sendiri di mata Raden Saleh. Ketika peristiwa penangkapan Pangeran Diponegoro (1830), Raden Saleh tengah berada di Eropa. Setelah tinggal beberapa tahun, kemudian ia pulang ke Hindia dan mulai memburu informasi tentang penangkapan sang pangeran melalui kerabat-kerabat dekat kerajaan, lalu menuangkannya di atas kanvas. Lukisan tersebut kemudian diberikan Raden Saleh untuk Raja Belanda, Willem III, sebagai hadiah. Mungkin pemberian lukisan ini semacam sindiran terhadap Raja Belanda tersebut, bahwa peristiwa yang sesungguhnya terjadi ialah peristiwa yang tergambar dalam lukisannya, bukan lukisan Pienema.

Setelah lebih dari seratus tahun berada di Belanda, pada 1976 lewat kunjungannya, Ratu Juliana mengembalikan lukisan ini ke pihak Indonesia. Sejak saat itu lukisan tersebut berada di Istana Negara, tepatnya di Museum Istana (Bruijn dan Pattopang, 2007). Selain lukisan Penangkapan Diponegoro, pengagum pelukis legendaris Perancis Ferdinand Victor Eugene Delacroix ini juga menghasilkan lukisan-lukisan lain yang juga bermuatan politis, di antaranya Perkelahian dengan Singa, Gunung Merapi dan Merbabu, dan Antara Hidup dan Mati. Lukisan Perkelahian dengan Singa dan Gunung Merapi dan Merbabu dibuat pada 1870. Kedua lukisan tersebut dibuat sebagai bentuk perlawanan terhadap pemerintah kolonial atas perlakuan semena-mena terhadap dirinya. Ia ditangkap dan diadili oleh pemerintah kolonial karena dituduh terlibat dalam pemberontakan di Tambun, Bekasi pada 1869. Ketika pemimpin pemberontakan, Bassa Kolot, yang menyamar sebagai dirinya tertangkap, ia dibebaskan namun tetap di bawah pengawasan. Pada lukisan Antara Hidup dan Mati yang dibuat pada 1848, tergambar seekor banteng besar melawan singa jantan dan betina. Banteng besar merupakan lambang perlawanan rakyat Indonesia, sedangkan dua ekor singa adalah lambang kolonial (Winaya, 2008). Melalui karyanya ia juga menyindir nafsu manusia yang terus mengusik makhluk lain, seperti berburu singa, rusa, dan banteng.

Raden Saleh meninggal di Bogor pada 23 April 1880, konon karena diracun oleh pembantunya yang dituduh mencuri lukisannya. Namun dokter membuktikan kalau ia meninggal karena pembekuan darah. Lukisannya yang berjudul Penangkapan Diponegoro memang fenomenal. Ia mampu menghadirkan peristiwa sejarah penting dalam karya lukisnya. Menurut Bruijn dan Pattopang (2008), lukisan ini bisa menjadi simbol identitas bangsa. Alasannya, pertama, lukisan ini dibuat oleh maestro pelukis Indonesia, yaitu Raden Saleh. Kedua, subjek lukisan adalah seorang pahlawan bangsa, yaitu Pangeran Diponegoro. Ketiga, lukisan ini memiliki nilai estetika yang tinggi. Lebih dari itu, lukisan ini menggambarkan sebuah peristiwa bersejarah yang sangat penting bagi bangsa Indonesia, yaitu penangkapan pemimpin Perang Jawa, Pangeran Diponegoro. Di dalam historiografi sejarah Indonesia, Perang Diponegoro atau Perang Jawa memang peristiwa perlawanan terhadap kolonial yang terbilang besar. Perang yang berlangsung selama lima tahun (1825-1830) ini menewaskan dua ratus ribu orang, sedangkan yang mengalami penderitaan berjumlah sepertiga dari penduduk Jawa kala itu, kira-kira dua juta orang (Kartodirdjo, 380-381: 1999). Perang ini juga menguras kas keuangan pemerintah pusat. Sudah merupakan kewajiban untuk menjaga warisan karya seni yang bernilai ini dengan sebaik-baiknya. Raden Saleh membuktikan, lewat karya seni, dirinya juga bisa melawan penjajahan. ***
*) Fandy Hutari adalah penulis buku, esais, cerpenis, novelis, dan wartawan tanpa surat kabar. Buku yang sudah diterbitkan: Sandiwara dan Perang, Politisasi Terhadap Aktifitas Sandiwara Modern Masa Jepang (2009); dan Ingatan Dodol (2010).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar